Market

AS Dan China Sedang ‘Lucu – Lucunya Nih’!

Today.id – Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan awal Desember dengan perkasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah terus menurun.

Pada perdagangan kemarin, IHSG berakhir dengan penguatan signifikan yaitu 1,03%. Ini merupakan penguatan harian tertinggi sejak April silam.
eski menguat di kisaran 1%, tetapi IHSG sebenarnya tertinggal dibandingkan bursa saham Asia lainnya. Shanghai Composite melesat 2,57%, Hang Seng melejit 2,55%, Kospi melonjak 1,67%, dan Straits Times melompat 2,34%.

Sedangkan nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,45% di hadapan greenback. Yuan China keluar sebagai juara Asia dengan penguatan 1,07%. Won Korea Selatan (+0,87%) menjadi runner-up, disusul baht Thailand (+0,61%) di peringkat ketiga.

Kemudian yield obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun turun 3,3 basis poin (bps). Yield untuk tenor 1 tahun pun turun 3,1 bps, tenor 5 tahun turun 1,3 bps, tenor 15 tahun turun 1,5 bps, tenor 25 tahun turun 9.5 bps, dan tenor 30 tahun turun 2,8 bps. Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang naik karena tingginya permintaan pasar.

Situasi global dan regional memang mendukung penguatan pasar keuangan Indonesia. Dari sisi global, investor semringah karena AS dan China sepakat untuk menempuh gencatan senjata dan menghentikan perang dagang, setidaknya sampai 90 hari terhitung mulai 1 Januari 2019.

AS tidak akan menaikkan tarif bea masuk dari 10% menjadi 25% untuk importasi produk-produk made in China sebesar US$ 200 miliar yang seyogianya dilakukan pada 1 Januari 2019. Sedangkan China sepakat untuk mengimpor lebih banyak dari AS, mulai dari produk pertanian, energi, sampai manufaktur.

Washington dan Beijing juga sepakat untuk bernegosiasi seputar transfer teknologi, hak atas kekayaan intelektual, hambatan non-tarif, pencurian siber, dan pertanian. Apabila tidak ada perkembangan yang memuaskan selama 90 hari, maka kedua pihak sepakat tarif bea masuk bagi produk China ke AS akan naik dari 10% menjadi 25%.

Berita ini tentu sangat positif karena setidaknya selama 2,5 bulan ke depan yang namanya perang dagang AS vs China tidak lagi menjadi sentimen yang membuat pelaku pasar sport jantung. Damai dagang untuk sementara sudah tercipta, dan diharapkan tentu tidak hanya 90 hari tetapi selamanya.

Dari sisi regional, investor merespons positif data ekonomi terbaru di China. Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur versi Caixin pada November 2018 tercatat 50,2. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 50,1 dan lebih tinggi ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Reuters yang sebesar 50.

Indeks pemesanan baru (new orders) naik dari 50,4 pada Oktober menjadi 50,9 bulan lalu. Ada harapan permintaan domestik di Negeri Tirai Bambu masih tumbuh, sehingga walau ekonomi mungkin melambat tetapi tidak ada hard landing.

Situasi global dan regional yang kondusif membuat investor tidak lagi bermain aman. Instrumen safe haven seperti dolar AS ditanggalkan dan arus modal mengalir deras ke negara-negara berkembang Asia, termasuk Indonesia.

Senada dengan bursa saham Benua Kuning, tiga indeks utama di Wall Street juga menguat tajam. Dow Jones Industrial Average (DJIA) berakhir dengan penguatan 1,13%, S&P 500 menanjak 1,1%, dan Nasdaq Composite terdongkrak 1,13%.

Seperti halnya di Asia, bursa saham New York pun terjangkit euforia damai dagang AS-China. Instrumen berisiko seperti saham diburu, karena investor memang sedang masa bodoh dengan risiko (risk off).

“Hari ini adalah peringatan AS dan China menunda sesuatu yang mungkin menjadi skenario terburuk dalam hubungan dagang kedua negara. Masih ada hal-hal yang perlu diselesaikan, tetapi sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya,” kata Michael Arone, Chief Investment Strategist di State Global Advisors, dikutip dari Reuters.

Saham-saham sektor industri memimpin penguatan Wall Stret. Indeks sektor industri di DJIA melesat 2,33% karena ada harapan industri manufaktur AS kembali bisa masuk ke pasar China. Harga saham Boeing melesat 3,81%, Caterpillar melejit 2,41%, dan 3M menguat 0,48%.

Kemudian, saham-saham perusahaan otomotif juga melaju kencang akibat cuitan Trump di Twitter. Trump menyebutkan Negeri Tirai Bambu sepakat untuk menghapuskan bea masuk bagi impor mobil asal AS.

“China telah setuju untuk mengurangi dan menghapus bea masuk mobil dari AS. Tarif saat ini adalah 40%,” cuit Trump. Berkat cuitan tersebut, harga saham Ford melesat 2,02%, General Motors melonjak 1,32%, dan Tesla melejit 2,29%.

Energi tambahan bagi saham-saham sektor industri adalah rilis data PMI manufaktur AS versi Institute of Supply Management (ISM). Pada November, PMI manufaktur Negeri Paman Sam tercatat 59,3. Lebih baik dibandingkan konsensus pasar yang memperkirakan di 57,6. Angka November juga naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 57,7.

Sub-indeks pemesanan baru naik dari 57,4 menjadi 62,1. Sementara sub-indeks ketenagakerjaan naik dari 56,8 menjadi 58,4. Kenaikan ini menunjukkan industri manufaktur di Negeri Adidaya terus membaik, dengan permintaan produk dan penyerapan tenaga kerja yang terus meningkat.

Selain semarak damai dagang, perkembangan harga minyak juga mendukung penguatan Wall Street. Indeks sektor energi di DJIA menguat 1,9% didukung oleh berlanjutnya kenaikan harga si emas hitam.

Pada pukul 04:19 WIB, harga minyak jenis brent melompat 4,46% dan light sweet meroket 5,38%. Akibatnya, saham-saham sektor energi mendapat apresiasi karena potensi kenaikan laba. Harga saham Exxon Mobil melesat 2,16% sementara Chevron menguat 1,45%.

Untuk perdagangan hari ini, investor perlu mencermati sejumlah sentimen. Pertama tentunya perkembangan di Wall Street yang memuaskan. Diharapkan hijaunya Wall Street bisa menular sampai ke Asia, termasuk Indonesia.

Kedua adalah nilai tukar dolar AS yang sepertinya masih tertekan. Pada pukul 04:30 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,28%. Indeks ini tidak berhenti terkoreksi sejak kemarin.

Tingginya risk appetite pasar membuat instrumen safe haven seperti dolar AS kekurangan peminat. Aura damai dagang AS-China yang begitu kuat membuat investor saat ini bernafsu memburu aset-aset berisiko.

Maklum, hawa damai dagang memang semakin terasa. Mengutip Reuters, China bersedia meningkatkan impor produk-produk made in USA senilai US$ 1,2 triliun. Tidak hanya itu, China (seperti yang sudah disebutkan oleh Trump) juga akan menghapus bea masuk untuk impor mobil dan hambatan non-tarif.

“Kami ingin tarif bea masuk (otomotif) turun ke 0%. Saya bisa katakan bahwa Presiden Xi tidak pernah begitu terlibat, dan kata yang mereka sebutkan adalah ‘secepatnya’,” tegas Lawrence ‘Larry’ Kudlow, Penasihat Ekonomi Gedung Putih, dikutip dari Reuters.

Washington pun semakin optimistis bahwa China mampu lebih membuka perekonomian mereka. Steven Mnuchin, Menteri Keuangan AS, mengungkapkan bahwa Presiden Xi menunjukkan komitmen tersebut kala berbincang dengan Trump di Buenos Aires.

“Sepertinya ini adalah kali pertama kami merasakan adanya komitmen. Tampaknya ini akan menjadi kesepakatan yang sesungguhnya,” ujar Mnuchin, mengutip Reuters.

Hubungan AS-China yang sedang ‘lucu-lucunya’ bagai pasangan baru ini tentu membuat pelaku pasar berbunga-bunga. Optimisme akan membuncah, pencarian aset-aset berisiko yang memberikan keuntungan besar akan semakin intensif, dan dolar AS akan semakin ditinggalkan.

Namun dolar AS masih menyimpan tenaga yaitu potensi kenaikan suku bunga acuan pada bulan ini. Mengutip CME Fedwatch, kemungkinan The Federal Reserve/The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps dalam rapat 19 Desember mencapai 83,5%. Lebih tinggi ketimbang seminggu lalu yaitu 79,2%.

Semakin mendekati hari H rapat Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC), biasanya dolar AS menjadi buruan. Apalagi ada harapan besar Jerome ‘Jay’ Powell dan sejawat akan menaikkan Federal Funds Rate.

Kenaikan suku bunga acuan akan ikut mengatrol imbalan investasi di AS, terutama untuk instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi. Demi cuan, investor akan memborong obligasi AS sehingga permintaan terhadap greenback bakal meningkat. Kala permintaan meningkat, maka nilai dolar AS pun semakin mahal alias menguat.

Untuk saat ini investor masih punya waktu untuk bersuka cita dan mengambil risiko, karena rapat FOMC masih sekitar 3 pekan lagi. Namun semakin mendekati tanggal rapat, maka dolar AS akan mendapatkan kembali momentum penguatannya.

Sentimen ketiga adalah perkembangan harga minyak, yang sudah disinggung sebelumnya. Kenaikan harga komoditas ini berhasil menjadi penyumbang penguatan di Wall Street, dan bukan tidak mungkin terjadi di Bursa Efek Indonesia.

Namun kenaikan harga minyak bukan kabar baik buat rupiah. Sebab, Indonesia adalah negara berstatus net importir migas sehingga kenaikan harga minyak tentu akan membuat impor migas membengkak, meski mungkin volume yang diimpor tidak naik. Akibatnya, defisit neraca migas akan semakin parah dan mempengaruhi transaksi berjalan (current account).

Bagi rupiah, transaksi berjalan adalah fondasi yang sangat penting karena mencerminkan pasokan valas yang sifatnya bertahan lama (sustainable). Kala transaksi berjalan mengalami defisit yang dalam, rupiah pun ikut melemah karena tidak punya fondasi yang kuat.

Oleh karena itu, kenaikan harga minyak (bila bertahan sepanjang hari) akan menjadi beban bagi langkah rupiah. Kasus seperti ini terjadi kemarin, di mana penguatan rupiah tertahan (bahkan tergerus) karena kenaikan harga minyak. Rupiah pun terpaksa terpental dari jajaran elit mata uang Asia.

Berikut adalah peristiwa-peristiwa yang akan terjadi hari ini:
Rilis suku bunga acuan Reserve Bank of Australia (10:30 WIB).
Pidato Gubernur Bank of England Mark Carney (16:15 WIB).
Pidato Presiden The Fed New York John Williams (22:00 WIB).

Investor juga perlu mencermati agenda korporasi yang akan diselenggarakan pada hari ini, yaitu:

Perusahaan Jenis Kegiatan Waktu
PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) RUPSLB 14:00
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

Indikator Tingkat
Pertumbuhan ekonomi (Q III-2018 YoY) 5,17%
Inflasi (November 2018 YoY) 3,23%
BI 7 Day Reverse Repo Rate (November 2018) 6%
Defisit anggaran (APBN 2018) -2,19% PDB
Transaksi berjalan (Q III-2018) -3,37% PDB
Neraca pembayaran (Q III-2018) -US$ 4,39 miliar
Cadangan devisa (Oktober 2018) US$ 115,16 miliar. (Red)

Today.ID merupakan sebuah portal berita online yang menyuguhkan informasi ekonomi, bisnis, dan politik terkini.

Copyright © 2018 Today.id - PT Jabar Media Net(work)

To Top