Market

India Menjadi Berita Buruk Buat Rupiah

Today.id – Sejak pembukaan pasar spot hari ini, rupiah tidak pernah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah yang sempat menjadi mata uang terlemah kedua Asia, kini sudah menghuni posisi juru kunci. Pasalnya, pasar keuangan India yang dinanti-nanti sudah buka dan membawa kabar buruk buat rupiah.

Pada Selasa (4/12/2018) pukul 11:05 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.279 di perdagangan pasar spot. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sejak pagi, pelemahan rupiah masih belum ada apa-apanya dibandingkan rupee India yang tercatat melemah di kisaran 1%. Namun itu masih menggambarkan posisi kemarin karena pasar keuangan Negeri Bollywood belum dibuka.

Sekarang pasar keuangan India sudah dimulai, dan rupiah harus menelan pil pahit. Rupee memang melemah, tetapi pelemahannya tidak sedalam rupiah.

Artinya, kini rupiah resmi menjadi mata uang terlemah di Benua Kuning. Di hadapan dolar AS, tidak ada mata uang Asia lainnya yang melemah sedalam rupiah.

Kini dolar AS sudah melemah di hadapan mayoritas mata uang Asia. Wajar, karena Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) masih melemah 0,24%.

Sepertinya hawa damai dagang AS-China masih sangat ampuh untuk membentuk risk appetite pelaku pasar. Mengutip Reuters, China bersedia meningkatkan impor produk-produk made in USA senilai US$ 1,2 triliun. Tidak hanya itu, China juga akan menghapus bea masuk untuk impor mobil dan hambatan non-tarif terhadap produk-produk AS.

“Kami ingin tarif bea masuk (otomotif) turun ke 0%. Saya bisa katakan bahwa Presiden Xi (Jinping) tidak pernah begitu terlibat, dan kata yang mereka sebutkan adalah ‘secepatnya’,” tegas Lawrence ‘Larry’ Kudlow, Penasihat Ekonomi Gedung Putih, dikutip dari Reuters.

Washington pun semakin optimistis bahwa China mampu lebih membuka perekonomian mereka. Steven Mnuchin, Menteri Keuangan AS, mengungkapkan bahwa Presiden Xi menunjukkan komitmen tersebut kala berbincang dengan Trump di Buenos Aires.

“Sepertinya ini adalah kali pertama kami merasakan adanya komitmen. Tampaknya ini akan menjadi kesepakatan yang sesungguhnya,” ujar Mnuchin, mengutip Reuters.

Hubungan AS-China yang sedang mesra ini tentu membuat pelaku pasar berbunga-bunga. Optimisme akan membuncah, pencarian aset-aset berisiko yang memberikan keuntungan besar akan semakin intensif, dan dolar AS akan semakin ditinggalkan.

Namun mengapa rupiah malah melemah? Bukan sekedar melemah, tetapi terlemah di Asia pula?

Mungkin harga minyak menjadi penyebabnya. Sejak kemarin, harga si emas hitam belum berhenti menguat. Pada pukul 11:14 WIB, harga minyak jenis brent naik 1,1% sementara light sweet bertambah 0,96%. Dini hari tadi, harga minyak sempat naik di kisaran 5%.

Kenaikan harga minyak bukan kabar baik buat rupiah. Sebab, Indonesia adalah negara berstatus net importir migas sehingga kenaikan harga minyak tentu akan membuat impor migas membengkak, meski mungkin volume yang diimpor tidak naik.

Akibatnya, defisit neraca migas akan semakin parah dan mempengaruhi transaksi berjalan (current account). Bagi rupiah, transaksi berjalan adalah fondasi yang sangat penting karena mencerminkan pasokan valas yang sifatnya bertahan lama (sustainable).

Kala transaksi berjalan mengalami defisit yang dalam, rupiah pun ikut melemah karena tidak punya fondasi yang kuat. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak (bila bertahan sepanjang hari) akan menjadi beban bagi langkah rupiah.

Faktor lain yang mungkin menjegal rupiah adalah ambil untung. Harap maklum, rupiah sudah menguat signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Sejak 30 Oktober sampai kemarin, rupiah sudah menguat 6,48%. Lebih tajam ketimbang penguatan yang dialami mata uang Asia lainnya seperti rupee (4,39%), won Kore Selatan (2,65%), peso (2,04%), atau dolar Taiwan (0,89%).

Bagi sebagian investor, angka penguatan rupiah itu mungkin cukup menggiurkan sehingga memancing aksi ambil untung. Tekanan jual membuat rupiah melemah. (Red)

Sumber : Tim Riset CNBC Indonesia

Today.ID merupakan sebuah portal berita online yang menyuguhkan informasi ekonomi, bisnis, dan politik terkini.

Copyright © 2018 Today.id - PT Jabar Media Net(work)

To Top