Financial

Meneropong Peluang Bisnis Syariah Di Tahun 2019

Today.id | Jakarta – Masa depan perekonomian atau bisnis syariah di Indonesia, termasuk di 2019 akan cerah dan baik. Di lansir dari lampost, Hal ini karena adanya potensi jumlah umat Islam yg besar baik secara nasional maupun global, serta adanya tuntutan dan keinginan umat Islam agar menjadikan halal sebagai gaya hidup serta kebutuhan hidup.

Namun hal itu membutuhkan dukungan berbagai pihak, khususnya pemerintah dan kalangan BUMN, apalagi masih ditemukan adanya pihak-pihak yang belum memiliki visi tentang pentingnya perekonomian syariah.

Demikian salah satu benang merah yang terungkap dalam Syariah Economic Outlook 2019 yang digelar Medcom.id bekerjasama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Universitas Al Azhar (UAI) di kampus UAI, Jakarta, Senin (10/2/208).

Seminar yang dibuka Rektor UAI Prof Asep Saefudin ini menghadirkan sejumlah narasumber dari OJK, Kemenpar (Ryanto Sofian), Direktur Departemen Syaria BI Ramatina, Group Head of Enterprise Risk Management M Fanny Fansyuri, owner Ayam Bakar Mas Mono, Mas Mono Dekan FEB UAI Kunctjoro, ownerPaytren Yusuf Masyur, Ketua MES DKI Jakarta Rezza Artha, dan Associate Dean of Markplus Inc Ardhi Rhidwansah.

Dalam seminar teruangkap ekonomi syariah di Indonesia memiliki potensi besar untuk bisa terus berkembang di masa mendatang. Hal itu salah satunya didukung oleh jumlah penduduk di Tanah Air yang mencapai 260 juta jiwa. Namun sayangnya, para pelaku maupun para pengambil kebijakan seakan berada di jalannya masing-masing sehingga membuat potensi tersebut tidak tergarap maksimal.

Ekonomi syariah sebenarnya bukan hal baru bagi Indonesia. Pasalnya, sudah ada beberapa industri yang bergerak dengan skema syariah. Sebut saja di keuangan syariah yakni perbankan syariah, asuransi syariah, perusahaan pembiayaan syariah, hingga pasar modal syariah. Tidak hanya itu, bisnis syariah di luar industri keuangan juga mulai marak sekarang ini.

Sebut saja usaha makanan yang tidak mengandung produk haram atau masuk dalam golongan ekonomi syariah hingga logistik halal. Bank Indonesia (BI) dalam sebuah kesempatan memperkirakan ada 40 persen dari aktivitas ekonomi nasional yang tergolong dalam ekonomi syariah. Angka yang besar ini tentu masih bisa dimaksimalkan lagi di kemudian hari.

Kemenpar sendiri, menurut Ryanto, terus mengembangkan pariwisata alal ang mendapat respon positif dari berbagai pihak dan kalangan.

Regulator seperti bank sentral di Indonesia pun sudah menginisiasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah bekerja sama dengan pemerintah. Saat ini, sudah ada Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang sedang menyusun peta jalan (roadmap) untuk meningkatkan potensi ekonomi keuangan syariah di Indonesia.

Untuk industri perbankan syariah pada dasarnya memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi sejumlah tekanan, terlihat dari kemampuan untuk terus tumbuh dari waktu ke waktu. Namun, tetap harus ada upaya bersama guna menekan sejumlah persoalan yang menghambat agar harapan perbankan syariah memperbesar market share bisa tercapai.

Tidak ditampik, market share perbankan syariah di Indonesia belum tumbuh tinggi dari tahun ke tahun. Langkah seperti memperbaiki struktur permodalan bank syariah, sosialisasi yang gencar mengenai produk perbankan terutama bank syariah, hingga penciptaan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat patut dilakukan.

Sedangkan di sisi lain keberadaan teknologi finansial (tekfin) bisa memberikan ancaman jika perbankan syariah tidak mulai mengoptimalkan teknologi atau mulai merambah bisnis digital. Memang salah satu solusi yang bisa dilakukan dari persoalan itu adalah menggandeng tekfin. Namun, kolaborasi itu harus benar-benar diperhatikan agar memang memberi keuntungan. (Red)

 

Sumber : Lampost.co

Today.ID merupakan sebuah portal berita online yang menyuguhkan informasi ekonomi, bisnis, dan politik terkini.

Copyright © 2018 Today.id - PT Jabar Media Net(work)

To Top