GURU JEMAAT ISAK TOREY DAN ORANG MIERE

TODAY.ID-Seorang Guru Jemaat Tua yang bertugas di Jemaat Zaitun Kampung Jawore Distrik Naikere sejak 2006 hingga kini memutuskan menjadi warga kampung jawore.

Beliau ditempatkan dan bertugas sebagai Guru Jemaat di Jemaat Zaitun Jawore, beliau tiba dan melaksanakan tugas sejak September 2006 di tengah jemaat Zaitun Jawore.

Dalam keseharian beliau menjalankan tugasnya sebagai guru Jemaat untuk mendidik, mengajar dan menginjili  warga jemaat yang adalah orang Miere.
Aktifitas kehidupan orang miere setiap harinya adalah berburu dan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Orang Asli Miere sama sekali tidak mengenal pendidikan dan kehidupan dunia luar, mereka masih terbelakang, di sini tidak ada sekolah, sekolah jauh di Naikere jadi susah untuk dorang sekolah, tapi saya berjuang untuk perbaiki dorang punya hidup supaya dorang bisa baik, saya dengan desa berusaha minta sekolah harus bangun di sini supaya anak-anak bisa sekolah. ujar Grj. Isak Torey.

Miere adalah sebutan bagi salah satu suku di pedalaman Wosimi Kabupaten Teluk Wondama yang mendiami pedalaman ufuk barat dataran Ure dari dulu hingga kini.

Suku miere dulunya tidak mengenal agama maupun Gereja, keseharian mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam wilayah hukum adat mereka.

Dulu tidak ada gereja mereka tidak mengenal gereja maupun agama. Mereka sembahyang di gubuk daun tikar, di bandar kayu, di goa itulah tempat mereka Sembahyang, namun sekarang sudah ada gereja sehingga mereka bisa sembahyang dengan baik. Sambung Grj. Torey. 

Kepala suku miere Petrus Siwawata dalam nama kafirnya adalah Nanesa juga mengucapkan hal serupa dalam bahasa leluhurnya bahasa Miere "Kanawe ariwewatkaro emeariwiatemi owis e watara, amoni, unaiyawi eme amariwi . Teenggasyemi nama ariwuata perese nambiyamara Ari emenama Amama  enggiyei owa aima emeamara ariwe yang artinya : dulu kami tidak kenal agama dan gereja, kami Sembahyang di gubuk daun tikar, di bandar kayu, di goa, itu tempat kami Sembahyang. Tapi sekarang sudah ada gereja jadi kami bisa Sembahyang dengan baik.

Sejak tahun 1920 Guru Injil Karel Dusen Korai/Yoteni memasuki wilayah pedalaman dengan membawa Injil Kristus kepada orang pedalaman suku Miere, mairasi dan Toro.

Namun penginjilan itu sempat terputus  dan mereka semua tidak menerimanya dengan baik karena berbagai macam kendala yang dihadapi oleh penginjil Korai maupun penginjil sesudah Korai.

Banyak tantangan yang harus dihadapi, letak geografis dan sulitnya Medan dengan jangkauan jarak jauh yang harus ditempuh dengan berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lainnya berhari-hari, harus bermalam di tengah hutan di gubuk daun tikar, tidak ada penerang dan hanya ditemani suara unggas dimalam hari sehingga penginjilan tidak dapat dilakukan dengan maksimal.

Kehidupan orang miere yang masih kental dengan budaya adat-istiadat, kehidupan berpindah-pindah pun membuat para penginjil sulit menjumpai mereka, Singga mereka pun jadi tertinggal dan terkebelakang.

Jawore adalah sebuah kampung kecil yang  terletak di pedalaman Distrik naikere kab. Teluk Wondama. Disinilah orang miere mulai menetap dan bertempat tinggal serta membangun sebuah kampung yang bernama Jawore.

Terdapat sebuah Bangunan gereja yang dijadikan sebagai tempat beribadah bagi suku miere di kampung tersebut.
Bangunan Gedung Gereja tersebut diberi nama  Zaitun Jawore, dikarenakan kampung tersebut terdapat sebuah bukit yang menurut masyarakat suku miere bukit tersebut mirip dengan Bukit Zaitun tempat Tuhan Yesus Berdoa menurut kepercayaan Nasrani.

Jemaat Zaitun Jawore berada di pertengahan antara Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Kaimana  Papu Papua Barat dan Kabupaten Nabire Papua, Antara Klasis Wondama dan Klasis Nabire Barat, Di dataran Ure ufuk Barat Tanah Papua.

Torey yang sudah lama bertugas di Jawore mengaku sejak 2006 ia bertugas hanya terdapat dua rumah didalamnya hanya dua Kepala Keluarga. Namun ia bertahan untuk menginjili mereka, hingga kini jumlah mereka sudah bertambah banyak dan mereka sudah mengenal Injil dan agama Kristen.

Sejak itu Torey hanya berjalan kaki ke tempat tugas sehingga kesulitan untuk melakukan perjalanan ke kota maupun kembali ke kampung Jawore tempat ia bertugas.

Sejak adanya jalan trans papua pun ia tidak memiliki motor sehingga beliau kadang menumpang di Truk milik PT. Raja Pala yang mengerjakan jalan dan sering melintasi jalan trans papua tersebut.

"Biasa sa mau turun ke kota atau kembali ke Jawore tu susah karena hanya jalan kaki, sekarang sudah ada jalan tapi tidak ada motor, jadi biasa numpang di Truk raja Pala dorang punya untuk ke kota, kembali juga begitu. Kalau dorang stop di mana, baru sa turun jalan kaki. Ujar Torey.

Ia rela meninggalkan keluarganya di kampung asal Kampung Rasiei Distrik Rasiei untuk harus bertahan di Pedalaman Jawore demi Tugas dan tanggung jawabnya sebagai Guru Jemaat bagi orang Miere.

Torey mengaku masa tugasnya tersisa satu tahun yaitu sampai tahun 2021 ia akan pensiun, namun beliau memutuskan untuk tidak pindah, ia akan menghabiskan sisah waktu tugasnya di Jawore dan sekaligus akan menetap sebagai warga masyarakat kampung Jawore. " Saya tidak mau pindah, tahun depan (2021) saya sudah pensiun, jadi tetap bertahan di Jawore, saya sudah putuskan untuk tidak pulang tapi saya akan tinggal di sini jadi masyarakat Jawore. Tutup Grj. Torey.

(Ecletus Sawaki / Kontributor Papua Barat)